Minta Pengakuan Indonesia, Cewek Papua Buka Baju di HI

Minta Merdeka, Cewek Papua Buka Baju di HI

warga papua saat berdemo di HI,Kemarin.
warga papua saat berdemo di HI,Kemarin.
Ratusan massa dari Aliansi Mahasiswa Papua menggelar unjuk rasa memperingati hari Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Bundaran HI, Senin (1/2). Uniknya, dalam unjuk rasa menuntut kemerdekaan Papua tersebut, wanita-wanita warga Papua membuka baju alias setengah telanjang.

Aksi tersebut berlangsung sekitar pukul 09.30 WIB dengan menggunakan atribut bendera bintang kejora di lengan dan kepala. Sesekali mereka berteriak “Merdeka!”. 1 Desember selama ini diperingati sebagai Hari Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Aksi tersebut sempat sempat dorong-dorongan dengan polisi. Polisi mencoba mengambil pengeras suara pendemo. Terjadilah tarik-tarikan dengan pendemo. Kericuhan itu terjadi sekitar 10 menit. Hingga pukul 10.22 WIB, pendemo melanjutkan aksinya dengan tenang lagi. Meski demikian puluhan polisi tetap berjaga-jaga. Lalu lintas sekitar ramai lancar.

Dalam aksinya, pendemo berorasi. “Kami bukan NKRI, kami bintang kejora!” kata salah satu orator.
“Berikan kebebasan dan hak untuk menentukan nasib sendiri sebagai solusi demokratis bagi rakyat Papua Barat,” teriak orator lagi.

Dalam aksinya pendemo membawa banner yang berisi antara lain ‘menolak segala bentuk paket UU NKRI di Papua’, ‘menolak pengiriman militer TNI Polri di seluruh Papua’, ‘menolak integrasi Papua lewat Pepera 1969′ dan menolak segala bentuk aturan atau kebijakan yang diatur oleh kolonialis Indonesia di Papua’.
Pendemo mengenakan kaos warna putih berlambang bintang kejora. Di bagian depan kaos terdapat tulisan ‘free west Papua’. Sedangkan di bagian belakang kaos, terdapat tulisan ‘hak menentukan nasib sendiri solusi demokratis bagi Papua’.

Sementara itu, Papua sebagai bagian dari NKRI sendiri sudah final. Dunia internasional mengakui Papua sebagai bagian dari Indonesia yang tak tergoyahkan. Mereka juga menolak tegas paket Otonomi Khusus Plus untuk Papua yang sedang dibahas di Dewan Perwakilan Rakyat.

RUU Otonomi khusus Papua sebelumnya dianggap bisa menjadi jalan tengah karena memberi ruang yang lebih luas kepada Papua dalam bidang pemerintahan, keuangan, dan kewenangan pengelolaan sumber daya alam.

Dewan Pakar Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia, Masud Said, mengatakan revisi otonomi khusus ini merupakan ‘upaya prosedural, konstitusional, dan konsultif’. “(Dibuat) dengan timbal balik komunikasi antara rakyat Papua yang diwakili oleh pemerintah provinsi, tokoh masyarakat, perguruan tinggi, dan orang tua di Papua,” katanya.

Masud mengatakan, RUU ini adalah solusi paling baik untuk menyelesaikan masalah Papua, klaim Masud. “Paling bagus melalui undang-undang. Kalau tidak melembaga, kekhawatiran-kekhawatiran akan muncul. Tuntutan apapun disampaikan secara konstitusional akan menjadi sah,” katanya.(RHS)

Selengkapnya.....



Kekerasan Perempuan Papua dan Jalan Pembebasannya

Kekerasan Perempuan Papua dan Jalan Pembebasannya

Perlawanan Mama Mama pedagang pasar di Jayapura
Rubrik: Perempuan Papua
Telah dicetak dan diterbitkan dalam Satu Papua Edisi 02/2013

Perempuan Papua adalah korban kekerasan ganda negara. Dalam lapis pertama perempuan menjadi korban kekerasan seksual yang berupa perkosaan, perbudakan seksual, penyiksaan seksual, pemaksaan aborsi, eksploitasi seksual dan terkait penggunaan alat kontrasepsi (KB) serta percobaan perkosaan. Dalam lapis kedua, perempuan mengalami kekerasan non seksual seperti pembunuhan, percobaan pembunuhan/penembakan, penyiksaan, penahanan sewenang-wenang, pengungsian, perusakan dan perampasan harta benda. Kekerasan yang dilakukan berbentuk fisik, seksual dan psikologis yang dilakukan atau didukung oleh aparat negara.


Kekerasan oleh negara sudah terjadi sejak Perang Dunia Kedua, Pemerintah Belanda dan aneksasi pemerintah Indonesia melalui operasi militer sejak tahun 1961 hingga sekarang. Sejak tahun 1963-2009, negara telah melakukan kekerasan terhadap 138 perempuan Papua dengan 52 kasus perkosaan, 24 kasus pengungsian saat operasi militer dan kelaparan, 21 kasus penganiayaan, 18 kasus penahanan sewenang-wenang. Sisanya mengalami penyiksaan, pembunuhan, perbudakan seksual dan penyiksaan seksual. Sebanyak 133 perempuan mengaku mengalami kekerasan dari militer, 20 kasus kekerasan dari polisi, 6 kasus kekerasan dari militer dan polisi (gabungan) dan 5 kasus kekerasan dari aparat negara lain. Sejak tahun 1963-2004, berdasarkan nama operasi militer, telah terjadi sedikitnya 24 Operasi Militer di Papua.

Perempuan juga bisa ditangkap karena dituduh mengibarkan bendera Bintang Kejora seperti yang dialami, Mama Persila Yakadewa dan tiga perempuan lainnya pada tahun 1980. Tahun 1994, Mama Yosepha Alomang dan Yuliana Magal ditangkap karena membelikan pakaian dan jaring ikan untuk komandan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN PB), Kelly Kwalik.

Kaum perempuan juga menjadi sasaran kekerasan dalam demonstrasi damai. Mei 2005 Marike Kotouki ditikam di kepala dengan sangkur oleh seorang anggota Brimob. Penangkapan dengan kekerasan juga menimpa Milka Siep, Debora Penggu, Raga Kogoya dan penulis yang ditangkap polisi dalam aksi damai menuntut “Bebaskan Filep Karma dan Yusak Pakage Tanpa Syarat” di Pengadilan Negeri Jayapura.

Mama-mama Papua yang ulet berdagang diemperan pasar dan jalan juga menjadi sasaran kekerasan penggusuran Satpol PP sepert kejadian di pasar Ampera, Jayapura. Perempuan di wilayah adat Anim-Ha (Merauke) juga harus tergusur dari tanahnya, dusun-dusun sagu, sungai dan hewan buruan karena tanah adatnya dirampas oleh negara untuk proyek raksasa MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate). Perempuan di wilayah adat Mamberamo-Tami (Keerom, Jayapura) juga kehilangan tanah, dusun-dusun sagu serta hutan sumber daging dan sayur genemo, karena dirampas oleh negara dan disulap menjadi jutaan hektar lahan kelapa sawit milik PT. PN (Perkebunan Negara) dan sekarang telah menjadi milik PT. Sinar Mas.

Kekerasan negara menjelaskan bahwa aparat keamanan, telah melakukan tindakan-yang militeristik terhadap perempuan dan rakyat Papua. Karena itu militerisme berkiat dengan kepentingan kaum perempuan Papua. Negara juga telah melakukan kontrol atas tubuh perempuan, mengeksploitasi perempuan secara gender dan ekonomi-politik. Karena itu Patriarki juga menjadi musuh utama perempuan Papua. Kekerasan negara juga membuktikan keterkaitan antara kekerasan di Papua dan kepentingan negara kapitalis untuk mengeksploitasi rakyat Indonesia dan Papua. Militer dan polisi pelaku kekerasan dididik dan dilatih oleh negara-negara kapitalis. Persenjataan juga diproduksi oleh industri kapitalis dan dikirim berdasarkan kerja sama dengan pemerintah RI. Karena itu,perempuan Papua sangat berkepentingan untuk juga menghubungkan perjuangannya dengan tuntutan anti Kapitalisme.

Perempuan harus mencari jalan keluar dari penindasanya sebagai perjuangan melawan penindasan yang lebih luas sebagai sebuah bangsa dan sebagai sebuah kelas. Perempuan harus membangun organisasi perempuan yang progresif dan militan untuk terus mendiskusikan, menganalisa dan menyimpulkan persoalan-persoalan penindasan dan eksploitasi perempuan secara ekonomi politik sebagai bagian dari pembebasan nasional Papua. Kaum perempuan juga harus membangun solidaritas dengan gerakan pembebasan perempuan di Papua, Indonesia dan Internasional.

Dalam tubuh gerakan pembebasan nasional Papua juga harus memiliki perspektif pembebasan perempuan. Perjuangan pembebasan nasional Papua sejalan dengan perjuangan pembebasan perempuan Papua. Tidak ada pembebasan nasional Papua tanpa pembebasan perempuan. Karena pembebasan perempuan adalah syarat bagi pembebasan nasional Papua itu sendiri.

Heni Lani, Staf Divisi Kampanye NAPAS

Selengkapnya.....



Pengumuman pemenang finalis lomba Koteka Weblog Competition : “Exploring Your Science’s Shine” 2014

 photo NewPicture6_zps0b6fc338.png
Pengumuman pemenang finalis lomba Koteka Weblog Competition : “Exploring Your Science’s Shine” 2014 diambil 3 (tiga) besar, Dalam ajang kompetisi ini dimenangkan oleh:
 
JUARA I
  1. Nama                           : Merdi Walela (Erik Walela).
  2. Tempat tanggal lahir      : Danam,10 Agustus 1995.
  3. Asal                             : (Asal daerah dari, distrik Ilugwa "Suku Walak").
  4. Alamat asal                  : Jl. Ilugwa-Kobakma (Desa Kalarin).
  5. Alamat saat ini             : Jl. Sriwijaya (Gang. teggalwareng II No.15), Semarang, Jawa Tengah.
  6. No. HP                        : 082323238970 dan 085713000774.
JUARA II
  1. Nama                           : Melkianus Lood Wenda.
  2. Tempat tanggal lahir      : Tiom,..../.....
  3. Asal                             : (Asal daerah dari, distrik Tiom "Suku Lanny").
  4. Alamat asal                  : Jl. Wamena-Tiom (Desa Tiom Kota).
  5. Alamat saat ini             : Jl. Sulawesi (Gang.No.45), Bandung, Jawa Barat.
  6. No. HP                        : 0822xxx dan 085xxx.
JUARA III
  1. Nama                           : Yumi Lood Wenda.
  2. Tempat tanggal lahir      : Tiom,..../.....
  3. Asal                             : (Asal daerah dari, distrik Tiom "Suku Lanny").
  4. Alamat asal                  : Jl. Wamena-Tiom (Desa Tiom Kota).
  5. Alamat saat ini             : Jl. Danau Maninjau (Gang.No.102), Malang, Jawa Timur.
  6. No. HP                        : 0822xxx dan 085xxx.
  7.  
        #====================  P E R H T I A N  ====================# 

Untuk peserta lomba yang masuk nominasi (Juara II dan Juara III) kami tidak bisa mendapatkan hadiah ataupun penghargaan dari kami, karena belum ada konfirmasi pendaftaran secara lengkap kepada panitia saat pendaftaran, nami kami tetap di daftarkan sebagai penuli, kontributor, admin, dan koresponden di SMPNews-PMNews Group Online Services.

Ketiga finalis lomba yang masuk nominasi urutan I,II,danIII kami akan serahkan kepada SPMNews-PMNews Group Online Services untuk:

  1. Menjadi Admin dari WPNews Group Online Services; di mana Anda mengelola salah satu dari situs layanan WPNews Group Online Services seperti papuapost.com, westpapua.net, melanesianews.org,melanesianews.org/wiki, westpapua.net/pmwiki/ dan melanesiapost.com
  2. Menjadi Penulis SPMNews dengan cara mendaftarkan diri ke Blog SPMNews dan ditetapkan sebagai Penulis oleh Admin SPMNews, dengan demikian dapat memposkan dan mengedit berita di SPMNews;
  3. Menjadi Kontributor SPMNews; berarti mengirimkan berita kepada kami dan kami mengupload berita dimaksud;
  4. Menjadi Koresponden SPMNews, menyampaikan berbagai laporan, tidak harus dalam bentuk berita, dan kami akan mengedit serta mengupload ke SPMNews Blog.
Anda juga dapat membantu kami menjadi donatur dan pendoa.
SIlahkan hubungi kami di koteka@papuapost.com atau koteka@melanesianews.org

Bagi Admin, Penulis, Koresponden ataupun Kontributor berhak menggunakan salah satu email dari nama domain yang tersedia, sesuai keinginan masing-masing; misalnya papuasatu@papuapost.com, atau papuasatu@westpapua.net

Terimakasih,
MERDEKA HARGA MATI!!!

SPMNews Crew


Motto :
“ Kekompakan dan Kebersamaan Adalah Kekuatan Kita”
KETUA
PANINITA PENYELENGGARA
“Exploring Your Science’s Shine

TTD

Jackson Huby, S.Kom

“Hendaklah kamu sehati, sepikir, satu jiwa, satu dalam kasih dan satu tujuan”
FILIPI 2:2



        #====================  SELAMAT DAN SUKSES  ====================#

Pengambilan dan Penyerahan Hadiah kami akan usahakan pada tanggal 29 Desember 2014 sekaligus kami akan umumkan malam imagurasi natal 2014 dan penjemputan tahun baru 2015.

Kami akan mengirimkan bingkisan atau hadiah kepada peserta lomba sesuai alamat peserta lomba diatas.

Selengkapnya.....